Semarak Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang

Semarak Perayaan Imlek dan Festival Cap Go Meh di Singkawang, sebagai seorang muslimah yang tinggal dan besar di kota Singkawang Sirasel merasa senang sekaligus bangga terhadap kota kecil dengan berbagai jenis keberagaman yang bersatu. Dengan motto pada kalimat bersatu untuk maju, singkawang berkualitas, menjadi penambah kepercayaan bahwa Singkawang memang pantas dinobatkan sebagai kota tertoleran di Indonesia. Semarak lampion dan hiasan bunga khas Imlek sudah menghiasi kota diawal memasuki bulan Januari. Perayaan Imlek sudah menjadi agenda tahunan di kota ini. Dengan mayoritas etnis Tionghoa yang memadati kota dan dengan ornamen Tionghoa yang begitu kental membuat kota ini terlihat seperti hongkong kedua di Indonesia. Nama Singkawang sendiri berasal dari bahasa Hakka, San Khew Jong yang mengacu pada sebuah kota di dekat laut dan estuari. Kota dengan masyarakat yang tak akan memandangmu aneh ketika kamu memakai cadar adalah Singkawang. Sirasel bahkan disambut dengan baik oleh Wali Kota Singkawang Ibu Tjhai Chui Mie, S.E. ketika bertandang kerumahnya saat perayaan Imlek dimulai.




Juga antusias keluarga murid Sirasel yang kebanyakan adalah etnis Tionghoa turut mengundang untuk makan-makan. Ngomongin makan-makan sepertinya Kuliner Singkawang yang bikin nagih tidak boleh dilewatkan. Tapi tenang saja sudah terjamin kehalalan dan kelezatannya. Salah satu contoh misalnya kue keranjang, makanan khas etnis Tionghoa satu ini hanya muncul diperayaan Imlek. Mungkin di hari-hari biasa juga ada, namun tidak sebanyak saat berlangsungnya perayaan Imlek. Tekstur kue yang kenyal dan beraroma beras juga terasa manis yang pas dilidah membuat siapa saja yang mencicipinya akan mudah teringat dengan kenangan Imlek, Dan sejujurnya Sirasel memang sangat menantikan tradisi mengirim kue keranjang ke tetangga di tengah-tengah masyarakat Tionghoa.



Pesona Kota Singkawang di siang hari pada perayaan Imlek


Uniknya dari kota ini, Singkawang selalu punya ciri khas di setiap tahunnya dalam hal merayakan Imlek. Wisata Kota Singkawang tidak hanya pantai dan gunung. Mulai dari lampionnya yang selalu diperbaharui menjadi entah itu lebih banyak atau lebih besar. Pada ornamen serta hiasan yang semakin semarak menambah kemeriahan disetiap sudut kota. Contoh sudut kota yang paling Sirasel suka adalah si cantik mei hwa di Pecinan Jamthang, yang berlokasi di Kelurahan Kaliasin ini tak terlupakan. Payung-payung cantik yang disebut-sebut dikirim langsung dari Tiongkok juga lampion unik berbentuk lonjong menjadikan Singkawang selatan memiliki spot foto bernuansa musim semi dengan kearifan lokal namun tetap tidak kalah indah dengan negara-negara 4 musim di belahan dunia lain. Jika kita berkunjung ke sana tidak perlu khawatir menaruh kendaraan karena ada tempat dan juga sangat aman untuk wisata keluarga terutama anak kecil. Menurut pengakuan Koh Adon, salah satu pengelola tempat menghias bunga mei hwa ini sudah berlangsung sejak tahun 1995 dan akan terus berlanjut hingga perayaan selanjutnya. Jadi tidak perlu khawatir karena jika tahun ini sudah lewat maka akan ada tahun selanjutnya dan mungkin akan lebih meriah di tahun-tahun berikutnya. Kita nantikan yah teman-teman.



Suasana malam di Singkawang pada perayaan Imlek

Tahun ini ada yang baru di Singkawang. Suasana malam yang lebih meriah dari biasanya. Wisata malam tidak hanya berupa lampion di tengah kota, melainkan juga sebuah gang mungil di sudut kota Singkawang Barat. Tempat ini menambah daftar Pesona Imlek Kota Singkawang dengan menghadirkan lampion warna-warni yang berjejer rapi 5 baris memanjang dengan menutup langit-langit gang sinar dengan sempurna. Berlokasi lengkap di jalan P. Natuna gg. Sinar, Pasiran, Singkawang Barat. Cara pergi ke lokasi ini kita bisa memilih akses masuk melalui Jalan P. Belitung sekitar 3-5 menit menggunakan sepeda motor dari rumah sakit Harapan Bersama kearah selatan.
Dikarenakan nuansa Imlek Singkawang sangat berkaitan erat dengan jutaan lampion. Dan yang kita tahu bahwa lampion indah saat menyala. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin berfoto di bawah lampion cantik ini versi Sirasel. Disarankan untuk mengambil momen di tengah malam sekitar jam 23:00 sampai jam 01:00 pagi. Dengan syarat sebagai berikut:




1. Tidak menyalakan motor terlalu kencang (pilihlah tempat parkir sesegera mungkin, jangan melakukan gerakan memutari kawasan tanpa ujung)
2. Merendahkan suara ketika berbicara, dianjurkan untuk berbisik-bisik agar suasana malam menjadi semakin romantis.
3. Sebaiknya tertawa sesedikit mungkin dan jangan sampai cekikikan karena tugas cekikik-cekikik sudah menjadi tugas si pemilik suasana malam.
4. Tetap ingat menjaga kebersihan dimanapun kita berada.
5. Poin kelima ini harus dilakukan dan sangat dianjurkan yaitu menyapa warga sekitar dan meminta izin dengan baik.
6. Tidak menganggu aktifitas warga yang ingin menggunakan jalan atau melintas selama kita mengambil foto atau video di bawah lampion.
7. Tidak merusak properti dan tetap menjaga bangunan serta budaya yang ada.



Satu-satunya tempat dengan kota yang setiap sudutnya terdapat Kelenteng, menjadikan Singkawang dikenal sebagai kota seribu Kelenteng. Kita juga bisa melihat betapa otentiknya bangunan kota yang sangat historis arsitekturnya. Jika kita berdiri ditengah-tengah persimpangan kota yang terdapat Vihara Tri Dharma Bumi Raya, nikmati pemandangan dua bangunan kota yang tak boleh dilewati begitu saja. Disisi lain Singkawang juga menyimpan cagar budaya yang terjaga hingga kini , Rumah Marga Tjhia yang bertempat di Jalan Utomo no. 36 Kelurahan Condong, Kecamatan Singkawang tengah, merupakan salah satu Cagar Budaya Kota singkawang. Tentunya para wisatawan asing juga sering berkunjung kesini saat acara menjelang Cap Go Meh.





Sejarah Cap Go Meh

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama(cap=sepuluh, Go=lima, Meh=malam). Di Singkawang, Kalimantan Barat Cap Go Meh  dirayakan dengan atraksi Tatung.



Asal usul Cap Go Meh bermula ketika zaman dahulu ada wabah penyakit yang menyebar diperkampungan etnis Tionghoa dan pada saat itu belum ada dokter. Kemudian warga etnis Tionghoa mendatangi tabib/dukun menggunakan cara tradisional dan cara yang ghaib. Bersama penduduk lokal mereka mengadakan ritual tolak bala(bahasa khek ;Ta Ciau). Lalu, karena dirasakan manfaat ritual dan wabah penyakit bisa diatasi dan mereka sembuh. Akhirnya ritual tolak bala ini dijadikan sebagai tradisi tahunan/turun temurun yang bertahan sampai saat ini dan dipadukan keperayaan imlek,yang diberi nama Cap Go Meh. Tujuan utama diadakannya Tradisi Cap Go Meh adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah/rejeki yang diberikan pada tahun ini dan sekaligus harapan agar musim berikutnya memperoleh yang lebih baik. Puncak acara Cap Go Meh ini dimaksud untuk mengusir/menangkal gangguan atau kesialan dari roh-roh jahat di perkampungan untuk masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertunjukkan tatung/louya. Tatung/louya sebagai media utama cap go meh. Atraksi tatung/louya dipenuhi dengan mistik dan spiritual. Tradisi Cap Go Meh di Singkawang adalah tradisi yang unik karena merupakan akulturasi budaya etnis Dayak dan budaya etnis Tionghoa dan budaya masyarakat lokal.

Semarak Cap Go Meh Singkawang

Setiap tahunnya, Festival Cap Go Meh Singkawang digelar istimewa. Kota Singkawang dikunjungi baik wisatawan dalam dan luar negeri. Tak ketinggalan hadir tamu-tamu kehormatan. Pada Cap Go Meh Singkawang tahun 2019 Singkawang hadir Menteri Pariwisata yaitu Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc. Didampingi Staff Ahli Menteri Bidang Multikultural Esthy Reko Astuti dan tamu VIP lainnya. Menariknya, Festival Cap Go Meh Singkawang masuk Calender of Event 100 Wonderful Indonesia. Woww keren ya.
Event spektakuler ini menjadi salah satu wadah kreasi terbaik terkhususnya untuk muda-mudi GenPI seluruh Indonesia yang berkumpul dan bersatu dibawah "merah putih" yang lahir dengan semangat mempromosikan wisata negeri tercinta. Melalui GenPI, anak muda baik di dalam maupun luar daerah Singkawang ikut menyemarakkan dan mendukung penuh event yang terlihat jelas berkumpulnya berbagai etnis. Sehingga menampakkan dengan jelas bahwa Singkawang memang pantas dinobatkan sebagai kota tertoleran di Indonesia. Tepat pada tanggal 19 februari 2019 festival Cap Go Meh menyabet trending topic di sosial media khususnya twitter. Sebagai salah satu anak muda singkawang Sirasel turut bangga dan mengapresiasi upaya teman-teman GenPI yang luar biasa dalam pencapaiannya untuk event Cap Go Meh tahun ini.



Tidak sulit bagi wisatawan untuk menyaksikan festival yang cenderung menampilkan atraksi magis ini. Sirasel akan menemani rute yang akan teman-teman lalui. Bagi yang berada di luar daerah Singkawang kita mulai dari bandara Supadio yang terletak di Kota Pontianak. Diharapkan tetap sehat dan fit juga tidak mabuk dalam perjalanan 4 jam menyenangkan menuju Singkawang. Jangan lupa untuk menikmati pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan. Tidak perlu khawatir tentang penginapan karena Singkawang menawarkan penginapan dari harga ekonomis hingga kelas bisnis. Tak lupa kuliner lezat yang turut tersedia di setiap penjuru daerah. Untuk tahun ini terdapat tenda kuliner Cap Go Meh yang menghadirkan gerai-gerai kuliner halal dan non halal. Tetap selamatkan perut selagi nonton Cap Go Meh dengan semangat yah teman-teman semua.



Atraksi dan Kegiatan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini ditonton sekaligus dibanjiri lebih dari 70.000 wisatawan. Menampilkan 12 replika naga, barongsai, replika tiga dewa, atraksi pawai tatung yang paling dinanti-nanti dan banyak atraksi lainnya. Menteri Pariwisata dalam pidato sambutannya menyebutkan "Saya hadir di singkawang mewakili presiden joko widodo. Atas intruksi beliau. Karena awalnya presiden yang akan hadir. Kita berharap event besar ini mampu mensejahterakan masyarakat. Selain itu, atraksi Singkawang juga bisa menjadi tingkat dunia".

Ada perbedaan yang terlihat dari Festival Cap Go Meh tahun ini, parade tatung tahun ini diikuti lebih dari 1000 orang tatung(media yang akan dirasuki roh leluhur). Tatung dari semua gender dan kalangan turut beratraksi di parade tahun ini. salah satu pemandangan tak biasa lainnya ada pada tatung orang asing yang diinformasikan berasal dari negeri wol Australia. Seorang pria dengan tubuh besar penuh tato ditubuhnya dan dengan wajah yang dihiasi piercing sesekali menjulurkan lidahnya yang terbelah dua dalam atraksi parade tatung.



Genderang gong serta drum khas liukan naga dan barongsai ditabuh terdengar disana-sini menyemarakkan acara. 12 replika naga warna-warni persembahan Santo Yosep Singkawang tampil semangat di Festival Cap GO Meh Singkawang. Setalah pawai berakhir ke-12 naga berukuran 20 meter itu kemudian dibakar di Vihara Budhhayana (cai thong). Bagi masyarakat etnis Tionghoa ritual pembakaran naga ini untuk mengembalikkan arwah naga ke kahyangan dengan membawa hal-hal negatif atau roh-roh jahat.



Singkawang tak akan habisnya berbicara tentang toleransi, salah satu yang terlihat dari parade tahun ini adalah keikutsertaaan Reog Ponorogo yang merupakan kebudayaan khas Jawa Timur. Atraksi seperti kuda lumping pun turut serta didalamnya. Menjadi bukti bahwa Singkawang mampu menjaga keberagaman budaya yang dimiliki. Pada tahun ini pula Singkawang menyabet rekor MURI pada replika sepasang singa raksasa setinggi 8,88 meter yang dipamerkan di stadion Kridasana Singkawang. Hal yang menarik dari patung ini adalah terdapat sentuhan seniman difabel pada setiap bagiannya.



Terlalu singkat rasanya jika tulisan ini harus berakhir, semarak Imlek dan Festival Cap Go Meh Singkawang bagi saya adalah sebuah masakan yang terasa nikmat. Terdapat bumbu yang beragam didalamnya. Terlalu sederhana memang untuk dianalogikan dengan keberagaman kita manusia. Namun percayalah kita semua mengutuk perpecahan bukan pada keberagaman.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang.

2 Responses to "Semarak Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang"

  1. Festival Imlek di Singkawang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya, makin tahun makin rame uii. Bangga deh

    BalasHapus
  2. tahun depan sambut aku di Singkawang ya, insya Allah. Terniat loh aku pokoknya tahun depan ke sana. Tapi ga tahu sama siapa. Ga tahan aku dibuat mupeng sama kalian liat cap go meh kemarin hicks

    BalasHapus