Wanita Itu

Wanita Itu - Oleh : Rachy Rasel

Tak ada yang berubah. Aku yakin tak ada yang berubah. Aku mencintai istriku Naya dan akan terus berada di dekat putriku Reni. Dengan apa yang sudah ku lakukan pada mereka, aku yakin aku menorehkan luka yang sangat dalam untuk mereka berdua. Untuk itulah aku tak akan mengulanginya lagi. Aku yakin aku telah mengakhiri semuanya. Aku yakin tak akan ada masalah lagi. Aku tak perlu dicurigai. Dan aku tak perlu merasa was was. Yah... aku baik-baik saja dan semua akan baik-baik saja pula. Itu lah yang aku yakini.

Namun ada yang aneh. Anakku tak mau ku sentuh. Reni masih berumur 4 tahun. Sudah 3 hari ini ia memandangku dengan ketakutan. Dan akan menjerit saat ku sentuh. Naya terlampau sabar untuk menyadari tatapan Reni padaku. Istriku akan menggendong Reni lalu menidurkannya. Lalu ia seperti biasa dengan tersenyum kemudian menasihatiku.

"Pah, ajak Reni main makanya sekali-kali. Dia merajuk tuh". Jelas istriku tentang tangisan Reni.
Aku ingin membantah dengan mengatakan bahwa aku sudah berusaha mendekati Reni. Tapi tak ada gunanya aku membantah omongan istriku. Dulu aku memang tak pernah mengajak Reni bermain. Aku sibuk dengan wanita itu. Wanita yang bukan istriku.

Hari ini aku membeli boneka Doraemon juga beberapa keping permen lolipop kesukaan Reni. Sepertinya aku harus terus membujuk Reni agar tak takut padaku. Aku yakin ia akan luluh,aku sungguh rindu bermain dengan anakku.
"Dimana Reni, Mah?". Tanyaku sesampainya dirumah.
"Mungkin di kamar Pah,coba lihat". Jawab istriku tanpa menoleh dan tetap sibuk dengan daun bawang yang hendak ia cuci di westafel.

Ku tengok Reni yang duduk membelakangiku. Aku berniat membuat kejutan untuknya. Namun bukannya aku yang mengejutkannya tapi Reni langsung menjerit dan menangis. Ku peluk anakku. Namun ia meronta. Lalu aku berbisik untuk menenangkannya.

"Reni sayang ini Papa. Ada apa sayang?". Tanyaku lirih mencoba menyadarkannya.
Anakku sesegukan dan menjawab terbata-bata dengan gaya khas cadelnya.
"Reni takut sama tante itu, dia selalu ada dibelakang Papa. Mengapa Papa selalu membawa tante Mira kerumah".
Aku mematung pucat. Mira wanita itu. Sekretarisku. Yang kuhamili dan kubunuh 4 hari yang lalu.

2 Responses to "Wanita Itu"

  1. Lah v: aku kira bapaknya pedo v: bagus bagus! Endingnya lagi-lagi tak terduga! Keren keren!! Lanjutan karyanya di judul lain v:

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay.. terima kasih udah mampir "lagi" .. haha.. masyaaAllah bisa aja kakak.. udah ada yang terbit di judul lain nie.. jangan lupa tetep stay dan ikutin cerita lainnya yah kak.. hohooo khamsyahamnida ...

      Hapus