BUKAN AKU


Bukan Aku - oleh : Rachy Rasel

Suasana malam atau siang tak pernah berpengaruh bagiku. Aku selalu terkurung di tempat ini. Bau pesing dan kotor itulah tempatku sekarang. tidak! Mungkin itu bukan bau tempat ku namun bau aku. aku memakan makananku dengan mulut karena tali yang mengikat lenganku begitu kuat. Aku sudah begitu lemah dan kesakitan. Namun tak satupun yang memperdulikan ku. Aku bagaikan monster menakutkan bagi mereka. Entah apa yang membuat mereka tak menyukai ku. Aku masih tak mengerti hingga sekarang.

“Aku lapar”. Lirih ku parau kepada seorang ibu gendut yang kerap kali lewat di depan kandang tempatku dipasung. Ibu gendut itu menatapku tajam, menjaga jarak lalu bejalan cepat menjauhiku. Beberapa menit kemudian ia datang membawa kantong plastik hitam yang berisi nasi dan dadar telur yang sangat amis, dan kurasa nasinya sangat lembek dan basi. Ah tapi aku lapar sekali. Fikirku tak peduli.

Hari ini terasa berbeda karena seseorang memperhatikan ku. Dia seorang wanita cantik kalau tidak salah ia bernama Dewi. Sepertinya ia bukan dari daerah sini. Dia selalu berdiam lama di depan kandangku. Seperti sedang ingin mengulurkan tangannya namun selalu ragu untuk menyentuh ku. Tapi aku juga tak ingin disentuh olehnya. Aku ini kan bau.

“Siapa namamu?”. Tanya wanita cantik itu seakan tak peduli pada bauku.
Aku menunduk seraya menutup kotoran tadi pagi yang belum disiram oleh warga. Aku tak terlalu hafal dan mengenal siapa yang menyiram kotoranku. Duhh malunya. Wanita itu sekarang memperhatikan kearah kotoranku.

Satu pekan telah berlalu. Entah apa yang telah terjadi. Sepertinya keajaiban berada dipihakku. Mimpi apa aku semalam. Aku bahkan lupa rasanya tidur nyenyak. Pagi ini aku di boyong keluar kandang tempatku biasa dipasung. Tanpa tali yang mengikat lenganku dan aku meninggalkan tempat menjijikkan itu. Aku di bantu membersihkan tubuhku bersama kaka cantik itu. Ia memberiku baju yang sangat indah berwarna merah muda. Dan tentu saja makanan yang enak. Ah ini ternyata rasa makanan yang tidak basi.

Kak Dewi dan beberapa teman-temannya yang lain membawaku keluar kampung. Hanya mereka yang kurasa sangat mempercayaiku,berbeda dengan para penduduk desa  yang mengintip ketakutan dibalik jendela rumah mereka seakan aku bisa kapan saja melompat menerkam lalu menelan mereka hidup-hidup. Aku tertawa geli dan mengutuk mereka dalam hati karena telah memasungku bertahun-tahun.

“Dew, kau tak ingin mengikat  anak ini?”. bisik salah satu dari teman kak Dewi.  Aku menunduk sedih. Kak Dewi tersenyum ke arahku dan memukul kepala temannya.
Perjalanan yang ditempuh dari kampung ke sebuah rumah di pinggir kota lumayan jauh. aku ingin sekali pergi tidur. Malam juga sudah sampai di langit kota.
“Ayo mari tidur. Kaka akan menemanimu”. Ajak kak Dewi padaku. Aku mengikuti ajakannya dan membaringkan tubuhku di kasur yang empuk bersama kak Dewi sedang teman kak Dewi lainnya di kasur yang lain.

Aku berlari. Dadaku sesak dan aku terdorong keluar. Aku terjatuh di pojokan gelap disudut ruangan yang temaram. Hanya cahaya rembulan yang mengisi pandanganku. seseorang menampakkan seluit tubuhnya dihadapanku. Nampaknya dia seorang wanita. Aku ketakutan. Dimanakah kak Dewi dan lainnya. Aku mencoba meraba disekitarku. Namun tak ada yang ku dapat. Aku meneriaki nama kak Dewi. Hanya siluet wanita itu yang ada di hadapanku. Sosok itu berjalan menjauh menunduk. Aku bersyukur dia tak memojokkanku. Siapa sosok itu. Dia terlalu kecil untuk ukuran kak Dewi. Sudah pasti itu bukan kak Dewi atau teman-temannya.

Seluit gadis itu berlari kesegala arah. Aku menatap ngeri kearahnya dengan dia yang mengacungkan pisau besar mengkilat ditangannya yang kecil. oh tidak. Siapa dia? Aku harus menelfon polisi. Atau siapa saja. Tolong!. Teriak ku bisu.

Aku terseok menepi ke pojok. Siluet itu seperti sedang mengejar dan membantai  seseorang. Dia terlihat menarik orang-orang yang sudah di tikam dan tusuk. Darah dan bau amis tercium oleh ku. Aku mual dan mencoba tak menimbulkan suara. Aku takut seluit itu menyadari kehadiranku. Dan mencoba menusukku juga.

“Kais..!”. itu suara kak Dewi. Aku yakin itu suara kak Dewi. Dia mencariku. Oh tidak. Jangan. Siluet itu akan menikam kak Dewi juga.
“Kais... dimana kamu”. Suara kak Dewi terdengar lagi. Siluet itu seolah menatap tajam kearah pintu. Terdengar seseorang berlari cepat mengarah ke ruangan tempat ku dan siluet kejam itu berada.
Aku harus melindungi kak Dewi. Aku harus bangkit dan melawan seluit itu. Dia hanya anak kecil lalu mengapa aku takut.
“Kais.. “. Bisik kak Dewi hampir tak terdengar saat pintu dengan sangat tergesa dibuka. Seluit itu tak boleh melihat kak Dewi. Aku melonjak berlari kearah kak Dewi.
“Kaka jangan kemari. Pergilah.. ada makhluk jahat disini”. Teriakku panik. Namun naas kak Dewi ditikam dan ditusuk oleh siluet jahat itu. Aku berteriak dan menangkap tubuh kak Dewi yang terjatuh. Siluet itu menghilang saat aku mendekat dan memeluk tubuh kak Dewi yang berlumuran darah.

“Kais.. apa salah kaka?”. Tanya kak dewi dengan mata melotot dan suara tercekat akibat tusukan pisau.
“kaka jangan kemari. Ada sosok jahat yang membunuh teman-teman kaka” . teriakku bergetar.
Kak Dewi tak menjawab. Tangannya mencengkram lengan ku yang berada di perutnya dengan sebilah pisau yang ku pegang tertancap disana. gaun merah muda yang ku sukai berlumuran darah.

Namaku Kaisa. Aku berkepribadian ganda. Untuk itulah seharusnya aku di pasung selamanya.

4 Responses to "BUKAN AKU "

  1. OMG, baca baris pertama aja aku udah merinding. Btw, sambungannya manaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay kamu.. terima kasih sudah mampir di blog aku.. wahh.. makasih bnget nie responnya keren bnget.. ini gak ada sambungannya lagi.. tapi ada cerita lainnya.. jangan lupa mampir di cerita yang lainnya yahh muach muach...

      Hapus
  2. Kereeennn! Endingnya susah ditebak! Bagus!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay kamu.. terima kasih udah mampir di blog aku.. hohoo endingnya kalo ketebak nanti akan jadi cerita sinetron donk.. jangan lupa mampir dicerita lainnya. dan bagikan juga keteman teman tentang mimpi buruk ini.. arigatou gozaimasu..

      Hapus