Selamat Hari Ayah

Selamat Hari Ayah.
Oleh: Rachy Rasel

Ps: cerita ini dibuat oleh si rasel untuk memperingati Hari Ayah pada tanggal 12 November 2015.

Tak ada yang bisa menghalangiku sekarang. Aku sudah menyelesaikan apa yang harus ku lakukan. Aku bebas. Berkat bantuan dari temanku yang seorang dokter hewan. Aku bisa merasakan hidup kembali setelah sekian lama aku memendam perasaan kalut dan kacau. Aku mendapatkan diriku seperti mayat hidup dipagi hari dan takut menghadapi esok hari. Aku takut dengan hari yang semakin maju kedepan, karena dengan demikian sesuatu yang ada di dalam perut pacarku akan semakin berkembang.

Hasil dari apa yang telah aku lakukan. Aku fikir ini tak akan terjadi. Aku tak bisa begitu saja putus sekolah. Belum lagi kekecewaan ayah dengan apa yang aku lakukan. Itu bagaikan aku menaruh kotoranku diatas kepala ayah. Lalu sebelum semuanya bertambah parah. Sebelum ayah tau semuanya. sebelum aku kehilangan masa depan ku. aku memutuskan melakukannya.

Malam itu ku taruh senyawa amitriptyline dan chlorpheniramine dalam minuman pacarku. Aku mengajaknya makan malam yang kusiapkan sedemikian rupa seakan menunjukkan betapa sayangnya aku padanya. Dulu memang aku menyukainya. Suka sebatas karena ia terus saja mengejarku. Lalu tak disangka saat ku rayu ia dengan mudah pula memberikan hal itu padaku.
“bayi ini akan ku beri nama gabungan nama kita”. Aurel berkata dengan semangat saat aku memberikan minuman coctail kesukaannya. Aku hanya tersenyum di ujung meja seraya mengangkat gelasku mengajaknya bersulang.
“Seharusnya kita undang teman-teman bila minum ini, David”. Ucapnya lagi sesaat sebelum bibir yang pernah ku kecup itu menyentuh ujung gelas.
“aku tak pernah menyangka kau akan sebegitu romantisnya. Dan mulai menerima kehadiran bayi ini”. Aurel tersenyum senang dan mulai meminum sedikit demi sedikit minuman yag telah kucampur. 
“apa coctail tak cocok untuk keadaanku? Soalnya aku merasakan mabuk sayang”. Mata Aurel sedikit meredup aku yakin senyawa itu sudah bereaksi sekarang. Aku tak menyangka akan secepat ini. Mungkin karena dosis yang kutambahkan terlalu banyak. Ah persetan dengan itu semua. Ini akan segera berakhir.

Aku menyaksikan tubuh Aurel terjatuh dihadapanku. Nafasnya tersengal dan mulutnya terbata-bata seakan lidahnya kaku seperti batu. Aku tak terlalu tau akan reaksi senyawa tersebut. yang ku tau itu obat anti depresi untuk membuat tubuh menjadi butuh istirahat. Namun yang kulihat adalah tubuh Aurel lemas kaku lalu tak bernafas. Ah sayang, aku tak perlu repot membunuhmu dan berlumuran darah. Lagipula aku membuat kematianmu menjadi mudah bukan?.

Aku membuang tubuhnya ke sungai didekat rumahnya. Agar orang tuanya mengira bahwa Aurel mati bunuh diri. Dengan semua sidik yang tak membekas sedikitpun dikamarku.  Dan disinilah aku sekarang,membersihkan semua noda menjijikkan itu tanpa sisa. Semua kenangan yang pernah terjadi apapun itu aku bakar hangus. Sudah lebih dari 5 hari sejak kematian Aurel yang masih dalam masa penyelidikan.

Kobaran api melahap semua barang yang tersisa dari bagian mantan pacarku itu. Aku terdiam sejenak saat foto terakhir akan ku bakar. Foto aku dan dia. Tersenyum manis menghadap kamera seolah saat itu aku yakin sekali dengan pilihanku. Namun sayang hubungan yang tak sehat ini membuat akalku pun menjadi tak sehat.
Bakar jangan yahh? Tanya ku menimang nimang. Aku ingin menyimpannya setidaknya satu untuk ku kenang. Bakar jangan? Bakar jangan?
“bakar saja”. Sebuah suara berasal dari balik punggungku. Suara wanita. Terdengar tak asing. Sontak ku palingkan pandanganku kearah suara berasal. Namun tak ada siapapun. Mungkin hanya halusinasi. Aku terlalu takut sehingga berfikir berlebihan. Tentu saja aku bukan orang yang percaya akan hantu atau lain sebagainya. Tapi...
“hi...hi...”. seorang anak kecil berlari melintas melewatiku begitu saja.
“si...siapa tuh. Jangan main-main disini bocah”.
“main yuk hii ...hi... disini dingin”. Anak itu sedikit menarik jaketku lalu menghilang.

Aku berlari kedalam rumah, mencoba mengatur nafasku yang tersengal. Aku merasa konyol untuk apa aku bertingkah seperti itu. Aku yakin itu hanya halusinasi. Mungkin karena aku kurang tidur saja. Memang benar aku tak bisa tidur. Mungkin dengan tidur semua ini akan menjadi mudah dan semua akan kembali seperti biasa.
“dingin”. Aku merapatkan tubuhku mengusir dingin dan basah.
Basah? Tanyaku saat otak ku merespon itu adalah air. Aku membuka mataku dan mendapati diriku di tepian sungai tepat di dekat rumah Aurel.
“apa yang terjadi?”. gumamku ketakutan.
“kita ada di rumah yang telah kau buat sayang”. Suara wanita berhembus di belakang tengkukku. Aku mencari cari suara sialan yang membuatku menjadi semakin pusing.
“siapa kau!”. Teriakku frustasi. Ada apa dengan semua ini? tak hentinya aku bertanya apa yang terjadi.
“jika kau lupa aku akan mengingatkan tentang semua ini”. Suara wanita terdengar dari arah bebatuan. Otakku mengatakan aku harus menghindari suara itu namun kakiku sekarang menuju kearahnya. Semakin mendekat semakin banyak cacing-cacing dan bebatuan seakan menarik-narik kakiku. 
“aku merindukanmu sayang. Begitupun anak kita”. Dari gaun yang ia kenakan aku yakin itu Aurel. Tapi bukankah dia?...
“tadinya aku ingin menjemputmu kemarin tapi anak kita meminta hari ini saja”.

Aurel memeluk tubuhku yang kaku. Ia menarik narik kakinya yang patah namun seakan tak peduli dengan bunyi retakan disetiap kali wanita itu bergerak. Lalu seorang anak kecil berlari kearahku dengan kepala yang nyaris hancur. Dia tersenyum lalu memelukku juga.
“kita akan tinggal disini selamanya Ayah, selamat hari ayah”.

1 Response to "Selamat Hari Ayah"

  1. Ceritanya secara utuh seperti kehidupan di masakini, ini gambaran yang dapat di ambil pelajaran dan mengingatkan pada generasi muda bahwa penyesalan itu datang pada akhir. Fikir dahaulu baru bertindak.
    Salut untuk sang penulis dapat menuangkan cerita ini singkat namun padat.

    BalasHapus